iklan

lagi cari sesuatu? Gunakan fasilitas ini ..

05 Juni 2009

Apakah kita akan ketinggalan dari Timor Leste?

Pakar dan praktisi ICT (Information and Communication Technology) Onno W. Purbo dan kawan-kawan, beberapa hari lalu memberikan pelatihan Open Source di Timur Leste, yang merupakan negara pecahan dari Indonesia. Kemal Prihatman, Asisten Deputi Urusan Pengembangan dan Pemanfaatan TI Ristek yang ikut dalam acara tersebut melihat bagaimana antusiame masyarakat Timur Leste dalam belajar Open Source. Antusiasme tersebut bukan hanya dari masyarakat saja, tapi didukung oleh sejumlah pihak yang berkepentingan, mulai dari pejabat pemerintah sampai komunitas IT. Antusiame tersebut dikatakan melebihi apa yang telah terjadi di Indonesia. Akankah kita ketinggalan dari Timor Leste dalam bidang ini pada beberapa tahun mendatang?

Kalau tidak dari sekarang kita mengakselerasi penggunaan Open Source di Indonesia, nampaknya beberapa tahun mendatang kita pun ditinggalkan oleh Timur LEste dalam bidang ini. Oleh karena itu, menurut Kemal, tahun 2011 dijadikan sebagai titik balik penggunaan Open Source di instansi pemerintah.Target ini merupakan bagian dari isi surat edaran dari Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara pada 5 April lalu yang isinya mewajibkan seluruh lembaga pemerintah untuk menggunakan software legal di seluruh jajarannya.

Dengan penggunaan perangkat lunak Opens Source, selain menghindari menggunakan perangkat lunak yang legal, juga bisa menghemat anggaran. Bayangkan saja, jika saat ini diperkirakan terdapat sekitar 800ribu komputer di seluruh instansi pemerintah dan semuanya menggunakan Windows Vista (min $121, Bhinneka.com) dan Microsoft Office (Rp 880000, sumber:Bhiineka.com), maka jumlah anggran yang harus disediakan paling tidak sekitar 1,7T rupiah.

Masalah lain adalah apakah semua instansi pemerintah sudah mempunyai sumber daya manusia yang memadai atau paling tidak mau belajar menggunakan Open Source. Karena bermigrasi bukanlah suatu pekerjaan yang menyenangkan terutama bagi yang sudah terlena menggunakan Sistem Operasi Windows. Hal ini disebabkan saat ini masih banyak perguruan tinggi yang berbasis IT bukan mengajarkan mahasiswanya menggunakan komputer, tetapi bagaimana menggunakan Windows. AKibatnya ketika mahasiswa atau alumni dihadapkan pada sistem operasi yang berbasis Open Source seperti Linux, mereka akan menganga.

Melihat kenyataan ini, diperlukan keinginan yang kuat dari semua pihak, baik dari perguruan tinggi (dengan menyesuaikan kurikulum), maupun pemerintah untuk lebih mendorong penggunaan perangkat lunak yang berbasis open source. Sudah waktunya para pengajar membimbing anak didiknya untuk bisa menggunakan komputer, bukan hanya sekadar menggunakan Windows.

Sosialisasi juga perlu dilakukan, sebab masih banyak pengguna komputer yang mengira bahwa Microsoft Windows (Xp, Vista) adalah segalanya. Mereka tidak/belum mengetahui bahwa ada Sistem Operasi lain yang lebih handal, murah dan legal dari Windows.

Pelatihan-pelatihan juga perlu diperbanyak, terutama pelatihan bagi pengajar. Pemerintah tidak bisa berharap agar pengajar mau belajar dengan kesadaran sendiri, walaupun banyak juga yang sudah belajar secara otodidak dengan menggunakan tutorial-tutorial yang banyak tersedia di internet (misalnya: ilmukomputer.com).

Mudah-mudahan semua usaha yang dilakukan bisa membuahkan hasil sehingga tidak menjadikan negara kita jauh tertinggal dari Timor Leste dalam penggunaan perangkat lunak berbasis Open Source. Sudah saatnya kita berhenti memberikan uang kita kepada Bill Gates yang sudah sangat kaya itu.

Baca selengkapnya ...

13 Mei 2009

Susahkah menggunakan Linux?

Pertanyaan ini nampaknya akan selalu muncul bagi orang pernah dengar-dengar mengenai sistem operasi yang satu ini dan tertarik untuk mencobanya namun tidak berani ambil resiko. Atau, ada juga orang yang pernah melihat dan sedikit mencoba sistem ini di komputer temannya dan merasa agak kesulitan. Semua itu saya kira wajar-wajar saja.
Hal ini sama saja dengan orang yang terbiasa menggunakan motor bebek yang dan beralih ke motor vespa. Tentu ada kesulitan-kesulitan yang pertama akan dihadapi. Tapi benarkah Linux susah bagi orang awam?

Pengalaman pertamaku berkenalan dengan Linux terjadi 11 tahun yang lalu. Saat itu memang benar, Linux masih sepertinya masih sangat susah dipelajari dan dipakai. Antar muka sistem operasi sangat susah.Kebetulan memang, komputer yang saya coba menggunakan text based. Jadi semua perintah diketikan. Tidak memakai mouse, walaupun sebenarnya sudah mendukung. Sistem oprarasinya klo gak salah RedHat (versi??).

Tapi hal itu sudah tidak terjadi lagi sekarang ini. Model text based sekarang biasanya hanya dipakai untuk Linux yang diperuntukkan sebagai server (walaupun bisa juga menggunakan GUI) atau bagi penguna yang memang benar2 "maniak" terhadap linux. Linux dengan ratusan (atau bahkan mungkin ribuan) variannya telah memberikan kenyamanan mata bagi pengguna sistem oprasi ini.
Dikala sistem oprasi windows belum bisa memberikan efek transparant, Linux sudah bisa. Efek 3Dimensi di windows dimulai pada era Windows Vista, padahal Varian Linux, yakni Suse (bukan Susi ya ...) telah menggunakan efek itu jauh sebelumnya. Semua ini jika dilihat dari sisi tampilan.

Nah... bagaimana dengan kemudahan pengoperasian?
Menurut pengalaman saya, sebenarnya sama saja. Selama kita mengenal komputer dengan baik, kita dengan mudah beradaptasi.
Bagi yang pernah menggunakan komputer di era awal 90-an, tentu mengenal dengan sangat baik WS dan Lotus123. Saat itu, kedua aplikasi ini, sangat populer untuk pekerjaan edit dokumen dan spreedsheet. Bagi pengguna yang sudah terlanjur familiar dan lancar menggunakan keduanya, akan "merasa" sangat kesulitan untuk beralih ke MS Word dan MS Excel (keduanya merupakan produk Microsoft). Padahal, kita yang berada di era sekarang ini, tentu akan berkata sebaliknya.
Hal yang sama tentu akan terjadi juga ketika beralih ke Linux. Setidaknya itulah yang terjadi ketika UGM dengan program UGOS-nya, mulai mencapakan gerakan open source ke semua unit-unit universitas. Kesulitan terbesar sebenarnya adalah "KETAKUTAN UNTUK BERUBAH".

Selain penggunaan, bagaimana dengan instalasi? Katanya susah.....!
Saya dengan berani menjawab bahwa, pada saat instalasi Linux (khususnya Ubuntu) jauh lebih mudah dari pada Instalasi Windows. Kesulitan utama hanya ada pada saat pembagian dan penentuan partisi, apalagi kalau mau menggunakan dual boot. Tapi selain dari itu, saya tinggal klik Next..Next... dan Next. Setelah selesai, maka aplikasi standar, mulai dari word processor sampai pemutar image editing sekelas Photoshop telah terintal dengan baik... dengan hanya menggunakan 1 CD.

Bandingkan dengan windows... setelah SO Windows terinstal, install MS Office (tentu dgn CD yang berbeda), kemudian instal ini ... itu ... dll.

Bagaimana kalau mau mencoba, tetapi tidak mau ambil resiko. Solusinya sangat mudah. Kita tinggal menggunakan CD intaller Ubuntu sebagai Live CD. Ubuntu akan berjalan di komputer kita tanpa terinstal. Dengan Live CD kita sudah bisa mencoba aplikasi standar Ubuntu (Word processing, Spreedsheet, Presentation, game, Browser, dan sebagainya). Kelemahannya, terasa lambat, karena berjalan dari CD-ROM.

Satu hal lagi, selama memakai menginstal Ubuntu di kompi2 yang saya miliki, hampir selalu tidak ada masalah dengan hardware. Tentu saja, hal ini tidak selalu berlaku. Ubuntu selalu bisa mengenali hardware yang saya pake dengan baik. Printer pun demikian. Jadi klu driver printer di windows anda hilang, maka silahkan pusing sampai 8 keliling. Tp di,Ubuntu tidak demikian. Setelah instalasi dasar, printer (terutama merek HP) langsung bisa dipakai.

Keunggulan lainnya, komputer kita akan lebih aman terhadap ancaman virus. Keluhan utama bagi teman2 yang mengunakan windows adalah soal virus. Efeknya, tiada hari tanpa up-date antivirus. Sebuah pekerjaan yang membosankan.

Kalaulah, mau dikemukakan semua kelebihan Linux(Ubuntu) tentu tidak cukup 1-2 halaman. Tujuan saya menulis ini, hanya sekedar membuka mata bagi yang sudah terlanjur takut dengan Linux. Linux tidak lah seseram yang dibayangkan. Bahkan Ubuntu sebagai salah satu varian Linux yang paling banyak dipakai mempunyai semboyang "Linux for human being".

Seharusnya kita lebih takut terhadap dosa dan virus yang selalu membayangi pengguna windows. Dengan memakai Ubuntu, kedua hal tersebut bisa diatasi.

Dari pada menggunakan Windows bajakan, mari gunakan software Open Source. Dosa kita sudah terlalu banyak untuk ditambah lagi.

Semoga bermanfaat.

Baca selengkapnya ...

09 Maret 2009

Me-non-aktifkan Fungsi/Fasilitas Autorun pada Windows

Penyebaran virus di Indonesia sebagian besar terjadi melalui media flashdisk. Ini terjadi karena ketidak hati-hatian pengguna. Virus hampir atau bahkan semua virus yang terinfeksi pada komputer telah diprogram secara otomatis untuk menginfeksi flashdisk jika ditancapkan pada port USB. JIka flash disk tersebut ditancapkan pada komputer yang lain, maka peluang unjuk terjangkiti menjadi sangat besar. Apalgi kalau fungsi autorun aktif.

Dengan aktifnya fungsi autorun, maka virus yang sudah mendekam di dalam flashdisk tadi, secara otomatis akan tereksekusi dan menginfeksi komputer yang sebelumnya belum terinfeksi. Proses inilah seperti inilah yang sering terjadi.
Untuk mengatasinya, salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah dengan me-non-aktifkan fungsi autorun di windows.

  • Buka Registry Editor dengan cara klik Start Menu > Run lalu ketik Regedit dan klik OK
  • Cari lokasi KEY_CURRENT_USER\Software\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Policies\Explorer
  • Buat key baru (klik kanan > New > DWORD Value) beri nama NoDriveAutoRun
  • Double klik untuk mengisi nilai (data). Pilih base Decimal dan isikan value data dengan nilai 67108863
  • Jika diperlukan, dapat juga menambahkan nilai yang sama di HKEY_LOCAL_MACHINE\Software\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Policies\Explorer
  • Terakhir, restart Komputer
Perlu diperhatikan, sebaiknya Anda hati-hati dalam mengedit Registry. Kesalahan mengedit Registry bisa menyebabkan WIndows Anda mabuk.
Segala resiko yang terjadi menjadi tanggung jawab Anda sendiri.
Semoga bermanfaat.

Baca selengkapnya ...

21 November 2008

Update (lagi) ke Ubuntu 8.10

Setelah menunggu lama (sejak awal Oktober 2008), akhirnya tanggal 30 Oktober, versi terbaru Ubuntu dengan Codename Intrepid Ibex keluar juga dari lembah pertapaanya. Begitu lamanya, saya malah mengira tidak jadi keluar di bulan Oktober he he... Nah.. saya berpikir saat itu, kalau keluarnya bulan November tidak dinamakan Ubuntu 8.10 lagi, tapi Ubuntu 8.11 (sesuai dengan bulan keluarnya).

Saya begitu menunggu versi ini karena pada versi 8.04, masih terdapat masalah ketika dijalankan di Notebook yang saya pakai. Setidaknya ada dua, yakni ketika jack speaker ekternal saya colokkan, suara dari speaker internal tetap keluar (biasanya kan langsung off secara otomatis), dan tidak mampu mendeteksi status baterai dengan tepat. Terkadang, dianggap tetap pakai baterai walaupun kabel power saya colokkan ke listrik.

Tapi syukurlah, akhirnya versi terbaru itu keluar juga. Namun demikian saya tidak bisa serta merta melakukan upgrade karena kesibukan kuliah. Cuma persiapan awal yang saya bisa lakukan lakukan, misalnya dengan melakukan backup.

Nah setelah mendownload ISOnya dan membakarnya, sayapun melakukan update.

Untuk kali ini saya melakukan fresh installation. Partisi tempat Ubuntu 8.04 bercokol akan saya format. Tapi, perlu diketahui bahwa, selama ini saya memang menyediakan partisi khusus untuk /home. Dengan harapan bahwa jika suatu saat saya melakukan Updaate, semua file2 dan beberapa setting-an tidak terganggu.

Untuk proses Update, bisa langsung mengacu ke www.ubuntu.com. Disana disediakan tutorial bergambar. Jadi bagaimanapun cara Anda akan melakukan proses update, akan terbantu.

Dan memang, setelah proses instalasi selesai dan restart, yang nampak pertama adalah settingan dekstop tidak berubah. Baik konfigurasi warna maupun wallpapernya.
Jadi kesimpulan saya, semua konfigurasi dekstop tersimpan di /home.

Karena ini masih konfigurasi dasar, tentu saja beberapa aplikasi belum terinstal.

Untunglah tadi pagi saya ke kampus dan melakukan proses update dan penginstalan beberapa paket untuk kebutuhan sehari-hari. Saya lakukan di kampus, karena kebetulan pada jaringan kampsu disediakan mirror untuk repository. Sehingga lebih cepat.

Beberapa aplikasi tambahan yang saya instal diantaranya: Audacious (Pengganti XMMS, mp3 player), VLC (player video serba guna, hampir semua format bisa dia mainkan, Downloader for X (Download Manager), Kopete (buat YM, walaupun sudah ada Pidgin yang terinstal secara default pada instalasi dasar), Thunderbird (Email Client), Grisbi (Aplikasi pengaturan Keuangan), Compiz Manager dan Emerald (buat tampilan yang lebih elegan), dan lainnya.

Akhirnya, tampilan dekstop Ubuntuk dan program Aplikasi kembali seperti semula. Email yang sudah terdownload dulu, kembali nampak di Inbox Thunderbird tanpa ada yang berkurang. He he... ! Begitupun dengan beberpa file yang dulu belum sempat selesai didownload oleh Downloader fo X juga masih bercokol disana dan ketika program ini saya buka, proses download dia lanjutkan dengan mulus. Kembali he he he...!

Soal tampilan, jangan ditanya lagi. Saya puas banget pada versi ini. Mudah-mudahan pada bulan April tahun depan, Ubuntu versi 9.04 jauh lebih lagi.
Coba liat screenshot yang saya tangkapkan di bawah ini:
Indah...kan?

Oh iya.... mengenai masalah suara tadi, pada versi ini sudah tertasi dengan baik.
Cuma baterai kayaknya belum teratasi. Kadang si Ubuntu masih bingung menentukan status baterai.

Selain baterai, masih ada satu hardware yang kayaknya masih bermasalah di notebook-ku ini, yakni fingerprint. Nanti saya akan coba cek lagi, apa ada aplikasi di Ubuntu untuk yang satu ini.

Setelah selesai proses update, masih ada satu hal yang ingin saya lakukan yakni, men-setting agar pada Ubuntu 8.10 ini saya bisa gunakan HP LG KU250 sebagai modem untuk koneksi ke Internet. Jika berhasil, akan saya buatkan tutorialnya di blog ini.

Ditunggu saran dan komentarnya..!

regard

A | Kha

Baca selengkapnya ...

19 November 2008

Wuiih.. BMW (mungkin) akan pakai Ubuntu.....!

Suatu kebanggan tersendiri mendengar bahwa ingin menggunakan teknologi Open Source pada mobil keluarannya di beberapa waktu mendatang. Berita ini saya dapatkan di www.techradar.com. Berkat Google Android dan Linux, pabrik mobil berbasis di Jerman itu telah membuat keputusan yang mengagetkan ini. Pihak BMW mengatakan bahwa mereka ingin mendapatkan sistem otomotif tidak berbayar pada mobil-mobil buatannya.

Fasilitas ini nantinya akan mempermudah perusahan lain yang ingin menambah layanan seperti hiburan, berita dan aplikasi lainnya ke mobil BMW. Untuk memperlancar hal ini, BMW meminta pabrik mobil yang lain untuk bergabung dengan harapan proses pengembangan aplikasi bisa lebih cepat.

Presiden BMW yakin akan perkembangan platform terbuka yang membuat software open source lebih berkembang, dan dapat diterima oleh masyarakat.
Saat ini, pabrik mobil yang lain masih lambat beradaptasi dengan Open Source. Misalnya General Motor yang baru mengatakan "akan berpikir menggunakan platform terbuka". Sedangkan Ford masih enggan untuk meninggalkan Windows.

Semoga, di dalam BMW nanti terpampang logo kecil berupa lingkaran berwarna coklat (Logo Ubuntu) -sistem operasi favoritku.

regard


A | Kha

Baca selengkapnya ...

16 November 2008

Menjalankan OS dari USB Flash Disk(1)

Oleh: Gunung Sarjono

Anda sudah pernah booting dari CD dan floppy disk, tetapi bagaimana dengan USB Flash Disk? Penggunaan mereka sebagai tempat penyimpanan file semakin meningkat, tetapi kemampuannya sebagai perangkat bootable relative belum diketahui. Kita lihat bagaimana…
1. Periksa Kompatibilitas BIOS
Jalankan PC Anda dan sebelum Windows boot, masuklah ke sistem BIOS dengan menekan tombol Delete, F2, F12, atau tombol apapun yang diperlukan oleh PC Anda. Bukalah tab atau menu Boot, cari opsi USB Boot dan ubah ke enable. Kemudian masuklah ke menu Boot Device Priority dan naikkan opsi USB device sehingga berada di atas harddisk Anda. Simpan perubahan yang Anda buat dan keluarlah dari BIOS.
Biarkan Windows boot seperti biasanya dan persiapkan image operating system yang akan Anda gunakan.
2. Siapkan Image OS
Anda memerlukan file bootable untuk USB Flash Disk (UFD). File tersebut merupakan kunci starter untuk operating system yang ingin Anda boot dari UFD. OS yang bisa Anda boot dari UFD terbatas, ini karena kapasitas dari UFD itu sendiri dan file yang tersedia. DOS merupakan pilihan yang sudah pasti dan
karena kebanyakan boot disk DOS hanya berukuran beberapa MB, Anda bisa memasukkan mereka ke UFD. Pilihan lainnya adalah Windows 98/Me start-up disk. Semua file yang dibutuhkan untuk itu bisa di-copy dari disket atau di-download.
3. Siapkan Utiliti yang Diperlukan
Windows tidak selalu bisa memformat UFD dan membuatnya bootable. WinImage merupakan utiliti yang bisa gunakan di sini. WinImage merupakan aplikasi shareware yang memungkinkan Anda untuk mentransfer file ISO image ke perangkat USB. Anda bisa men-download WinImage dari http://www.winimage.com. Utiliti lain untuk membuat bootable disk pada UFD adalah MKBT yang merupakan utility freeware. MKBT sedikit lebih sulit dibanding WinImage tetapi mempunyai fleksibilitas jauh lebih besar begitu Anda mengenalnya. MKBT dapat meginstalasi FAT, NTFS, atau RAW boot sector pada UFD. Anda bisa mendapatkan MKBT dari http://www.nu2.nu/mkbt.
4. Instalasi Utiliti untuk Transfer Image
Jika Anda men-download MKBT, maka yang kemudian perlu Anda lakukan hanyalah mengekstrak file download dan langsung saja jalankan program. Namun, hal sebaliknya terjadi bila Anda men-download WinImage. Klik ganda file instalasi dan kemudian pada kotak dialog yang muncul klik Next. Pada halaman Registrasi, kosongkan saja bagian Name dan Registration Code dan kemudian klik Next. Untuk langkah selanjutnya, Anda bisa mengikuti petunjuk yang diberikan. Sebagai contoh di sini kita akan menggunakan WinImage. (Perlu dicatat bahwa jika belum menggunakan registrasi Anda hanya bisa menggunakan WinImage lama 30 hari).
5. Transfer Image OS Ke UFD
Masukkan UFD ke salah satu slot USB pada PC Anda dan kemudian jalankan utiliti yang akan digunakan
untuk mentransfer boot file. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa contoh di sini menggunakan WinImage, oleh karena itu langsung saja jalankan program. Pada menu File pilih Open. Cari file image yang telah Anda siapkan sebelumnya pada langkah 2 dan kemudian klik Open. Pada menu Disk dan kemudian klik perangkat USB Anda. Buka kembali menu Disk dan kemudian klik Write Disk. Pastikan tidak ada yang penting karena semua file yang terdapat pada UFD akan terhapus.
6. Boot Komputer dengan UFD
UFD Anda sekarang telah menjadi bootable disk, sehingga biarkan tercolok pada PC Anda dan restart. Asalkan Anda telah menaikkan urutan prioritas boot perangkat USB di atas harddisk, sistem Anda akan boot ke DOS/Windows dari UFD. Untuk memasukkan bootable OS yang lain ke dalam UFD Anda, ulangi langkah sebelumnya. Download, ekstrak, dan copy files system yang dibutuhkan ke UFD Anda. Jika Anda men-download file ISO (atau image yang lain, gunakan WinImage atau MKBT untuk mentransfer file image ke UFD Anda).

HP Format Tool dan Download Image
Windows tidak selalu bisa memformat USB Flash Disk (UFD) dan membuatnya bootable. Tool lain yang
dapat Anda gunakan adalah HP USB Disk Storage Format Tool. Meskipun disebutkan sebagai “Windows-based format utility for HP Drive Key or DiskOnKey USB device,” program tersebut dapat bekerja dengan
sebagian besar perangkat UFD. Jika program tidak dapat mengenali UFD yang Anda gunakan, maka Anda
bisa menggunakan WinImage atau MKBT. Jika Anda tidak mempunyai disket bootable atau image OS yang ingin digunakan, kunjungi http://www.bootdisk.com untuk men-download image start-up disk dari beberapa versi DOS dan OS lainnya.
Sumber: www.pcmedia.co.id

Baca selengkapnya ...

Cara Mengembalikan Boot Windows

Sebenarnya saya agak malas menuliskan tutorial yang satu ini, sebab ketika seseorang sudah berhasil saya “pengaruhi” untuk memakai Linux (walaupun dual boot), saya ingin si Linux tersebut tetap bercokol di sana sampai kiamat.
Tapi kadang-kadang karena ketidaksabaran dan tidak adanya keinginan untuk belajar, banyak juga teman-teman yang ingin kompinya terbebas dari “wabah” linux.
Seperti kita ketahui, ketika kita menginstal linux pada sebuah komputer yang sudah dihuni oleh Windows, maka linux akan mengambil alih proses booting. Untuk mengembalikannya kepada Windows, berikut langkah-langkah yang dapat diikuti:

  1. Masuk lah ke setup BIOS setelah terlebih dahulu menekan tompol Power di komputer Anda.
  2. Atur supaya komputer Anda booting dari CD ROM
  3. Siapkan CD Installer Windows, dan masukkan ke CD ROM, kemudian keluar dari BIOS Setup, setelah sebelumnya menyimpan hasil perubahan yang telah dilakukan.
  4. Pada tahap awal setelah komputer berhasil booting dengan menggunakan CD Installer Windows, tekan tombol R [repair]
  5. Kemudian pilih nomor partisi windows yang ada misalnya ‘1’ untuk 1:c:\windows
  6. Setelah itu masukkan password user administrator jika ada (jangan katakan bahwa Anda telah lupa passwordnya!!!)
  7. Setelah muncul tanda PROMPT yakni c:\windows> , ketikkan perintah “fixmbr” (tanda kutipnya jangan ikut di ketik ya…..). Lanjutkan dengan menekan ENTER
  8. Kemudian lanjutkan dengan perintah “exit” (sekali lagi… tanda kutip jangan ikut diketik!!) untuk keluar dari prompt.
  9. Reboot komputer Anda.
  10. Jika Anda cukup beruntung, maka Windows anda akan jalan dengan normal lagi.
  11. Kalau tidak berhasil.. hal itu bukan tanggung jawab saya. He he he….!

Source: http://stmik-tm.blogspot.com

Baca selengkapnya ...

Cara Mengembalikan GRUB Ubuntu.

Bagi kita yang masih menggunakan atau menginstal dua buah sistem operasi yakni Sistem Operasi Windows dan Linux pada satu buah komputer kadang-kadang mengalami kesulitan ketika Windows mengalami masalah dan perlu diinstal ulang.
JIka hal ini terjadi, maka proses booting yang pada mulanya dipegang oleh si "Tux" akan diambil alih oleh di "Jendela", sehingga kita tidak bisa masuk ke Sistem Operasi Linux, padahal sistem si Linux sudah kita "dandani" sedemikian rupa sampai kita tidak mampu mengalihkan pandangan ketika menatapnya.
Sayang ya ... kalau linuxnya kita harus instal ulang juga.
Berikut inicara untuk mengembalikan Grub Linux, khususnya Ubuntu sehingga kita bisa kembali berlama-lama memandangi si Lunux yang cantik dan menawan itu.
1. Siapkan CD Ubuntu. CD Ubuntu bisa anda dapatkan dengan berbagai cara, misalnya dengan memesan langsung dari canonical melalui www.ubuntu.com. Kalau koneksi anda cukup tangguh bisa download diberbagai server di Indonesia. Bagi yang terkoneksi dengan jaringan INHERENT bisa juga di berbagai mirror yang ada, misalnya http://kambing.ui.edu , http://info.ugm.ac.id atau repo.ugm.a.id
2. Setting bios komputer Anda agar bisa 1st booting via CD.
3. Booting deh.
4. Setelah berada pada Live Session (komputer berjalan dengan menggunakan Sistem Operasi yang ada di CD), bukalah Application >> Accesories..Terminal
5. Pada terminal (bukan terminal mobil ya..., tapi sebuah window yang tampilannya kayak jaman DOS dulu...), kemudian ketik:
sudogrub
6. Ketikkan perintah berikut:
grub>find /boot/grub/stage1
perintah ini bertujuan untuk mencari GRUB-nya
7. lanjutkan dengan perintah:
grub>root (hd0,partisi grub)
8. lanjutkan dengan perintah berikut:
grub>setup (hd0)
9. restart komputer untuk melihat hasilnya.

Agar lebih jelas perhatikan contoh berikut:
ubuntu@ubuntu:~$sudo grub
grub>find /boot/grub/stage1
hd0,5 (ternyata Grub ditemukan di (hd0,5)
grub>root (hd0,5) (parameter hd0,5 didapatkan dari perintah sebelumnya)
grub>setup(hd0)
grub>quit

Mudah-mudahan petunjuk di atas bisa membantu. Kalau ada pengalaman lain, bisa dibagi di blog ini.
Penulis tidak bertanggung jawab atas segala akibat yang ditimbulkan oleh tutorial ini.

Sumber: http://stmik-tm.blogspot.com

Baca selengkapnya ...
 

blogger templates 3 columns | Make Money Online